Pinter ngomong..

5 Comments

Tadi siang aku nonton speech nya presiden baru AS, Barrack Obama.. Yang terpikirkan pertama kali olehku adalah pinter ngomong yah..

Gila, kl aku mana bisa merangkai kata2 indah seperti itu.. hehe..

Tapi kl kupikir2.. emang butuh pemimpin yang pinter ngomong. Why? Because people need hope, people need spirit to do something.. Jadi sebenarnya, maksud aku dengan pinter ngomong adalah, mampu memotivasi dengan baik, dan membakar semangat orang lain sehingga apa yg menjadi tujuan, dapat tercapai. Bayangkan ketika pemimpinnya gak mengeluarkan kata2 manis itu, tapi hanya nyuruh bawahannya kerja ini dan itu (like all the managers do), do you have full spirit or energy to work?

Itulah bedanya pemimpin (leader) dan manajer. Pemimpin -> transformational leadership, sementara ‘manajer’ -> transactional leadership. Sebagai pemimpin, harus mampu men’transformasi’ bawahnnya, dari orang yang dulunya bekerja kyk robot (ini kasarnya sih), sampai orang itu menemukan ‘makna’ dia bekerja, bekerja dengan semangat, dan memiliki nilai-nilai perusahaan itu. Kalo ‘manajer’ kan, cuma design something, organize it, and tell people to do it.. (hehe, sekali lg, ini kasarnya sih)..

So, apakah posisi manajer itu salah?? Ya engga, manajer kan cuma penamaan jabatan, tapi peran apa yg dijalankan utk jabatan itu yang penting,, Peran itu ya pemimpin atau ‘manajer’ tadi itu..

sebenarnya arahan postingan ini kemana yah,, lari2 gitu.. hehe..
Sebenarnya pgn nunjukin ‘the power of words’.. Bahwa ada orang yang diberikan talenta mampu merangkai kata2 dengan baik dan indah, agar orang lain mendapatkan energi, power. spirit, (sama semua artinya ketiga kata itu ya,, hehe) yang baru dan lebih kuat untuk berbuat sesuatu..

Itulah (mungkin..!) yang membuat para pemimpin dunia, kok pinter2 ngomong yah,, hehe

*postingan ini sebenarnya sbg wujud kekesalan terhadap diri sendiri yang ga pinter ngomong (apalagi depan umum), sementara ada orang lain yang pinter ngomong.. huh,, what a life.. hehe..

Bahagia ?!?

1 Comment

Baru2 ini aku membaca buku yg berjudul “Libido Junkie” yg merupakan kumpulan ceritanya Nova Riyanti Yusuf (Noriyu).. dari sekian banyak cerita,, ada satu cerita yg ‘kena’ dihati..  n I want to share it with you guys..

Satu cerita itu berjudul ‘Normalitas’.. Beberapa hal yang menarik (aku poinin aja kali ya), yaitu:

– si penulis tertarik dengan konsep normalitasnya Sigmund Freud, “Perfection is an ideal fiction”. Bahkan untuk level fiksi, konsep kesempurnaan masih dalam taraf ideal,  yang menurut dia adalah suatu yang tak terjangkau.. contoh, suatu pernikahan yang terlihat sempurna diluar, ternyata mengikuti trend perselingkuhan, yang menurut mbak Noriyu, adalah bensin keutuhan rumah tangga dengan khasiat: 1) tidak lekas bosan dengan suami/istri, 2) awet muda sehingga suami/istri bangga akan keelokan pasangannya, 3) pemuasan segala aspek ego dengan poligami terselubung,, Dari contoh itu, mbak Noriyu menyebutkan, sebuah rumah tangga harmonis atau sempurna, ternyata dibangun di atas bisul bulat sempurna yang didalamnya senantiasa penuh nanah bakterial..

– “contoh lain kesempurnaan,,  Sepasang manusia harus menikah dengan persetujuan kedua belah pihak keluarga, dan menimbulkan decak kagum kerabat atau teman2 keluarga.. Jarang, sepasang manusia menikah karena mereka saling mencintai. Ada sebuah standar ganda yang mengizinkan sepasang manusia berpasang2an secara sah di mata hukum”

– “Seharusnya, manusia frustasi dengan norma tidak tertulis. Karena norma mengabaikan rasa yang hakiki. Substansi hidup menjadi terbelenggu “nilai” kolot dan picik, bahwa proses hidup adalah suatu ulangan umum dengan rapor berisi penilaian yang telah dikalkulasi secara seksama oleh masyarakat. Kadang saya bergidik, kenapa kita mau dinilai sesama manusia? Tidak pernah berpikir bahwa konsep kebahagiaan adalah milik si empunya. Saya, si empunya emosi, akal, dan nafsu. Maka, saya yang harus bertanggung jawab memuaskan setiap elemen dalam diri saya.”

– “Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang didikte oleh manusia lain, atau bisa diukur dengan parameter uang, ketenaran, atau kekuasaan. Kesempuranaan tidak akan pernah ada. Yang ada, hiduplah dalam konsep individual, akan apa makna kebahagiaan itu sendiri.”

yah, itulah sepenggal cerita kutipan dari bukunya mbak Noriyu yang menarik perhatianku,, mungkin kalian bisa buka link ini: Kau renungi dulu…
kalo di link itu, itu adalah perenunganku yang lagi emosi melihat orang2.. haha.. walau ga ada hubungannya (mungkiinn) tapi pengen aja kalian liat lagi link itu.. hehe..

hanya kamu sendiri yang tau apa yang membuatmu bahagia.. bukan orang lain..

tapi apakah kamu bahagia melihat orang lain menderita karena kebahagiaanmu??

jadi, apa yang harus dilakukan??

Semuanya tergantung kondisi apa yang lagi dihadapin.

misalnya lagi nih, aku sukanya kuliah di arsitektur, tapi orang tuaku pengennya jadi dokter,, kata orangtuaku, “kebahagiaan terbesar di hidup kami adalah melihat anak kami jadi dokter”.. what would u do? kl aku, akan tetap kuliah di arsitektur (walau mgkn harus boong2 sana kemari dulu), tapi dengan tekad “akan membahagiakan orang tua dengan cara yg lain”..

piss ah