Tadi malam, sebuah sms sampai ke hp ku. Isinya, “Yet, tampaknya aku menyerah saja lah.. perlawanan keluarga sudah semakin frontal..”
ada apa gerangan?
Sms itu adalah sms dari sepupuku. “Pertemanan”nya dengan cowonya ditentang keluarga (besar) karena marga cowonya itu sama seperti marga ibunya sepupuku, walau tidak ada hubungan keluarga apapun. Hanya hubungan keluarga. Emang sejauh apa sih ketidakberterimaan adat terhadap hal ini? Yang aku tau (dan aku yakin yg dia juga tau) doktrin dari dulu tu, cuma ga boleh menikah dengan yg semarga + dongan tubunya (bagi beberapa rumpun).
Ketika aku nanya ke mama, jawaban yg kudapat hanya, “ya ntar jadi bingung mw manggil2 apa, tulang lah, borulah, dsb.. lagian ntar jadi pembicaraan orang.” Intinya itu yg kutangkap. Yg jelas, aku masih bingunglah dengan penjelasan mama itu. Apa karna dia sama aja kayak aku ya, kl dah ditanyain orang biasanya jawabannya, “Bla..bla..bla (ga jelas)… Ya gitu2lah..”. Haha.. Like mom like daughter..
Kemudian aku nanya ke bgkopkuow.. Emg ada apa sih bang dengan itu? Dan terjadilah diskusi menarik nan hangat yang kala itu dibantu oleh bg Marbun (singkatan nama Marlon (marga) Bumbungan?) dan Pak Junaedi (seorang Jawa). Mereka bertiga lagi dalam perjalanan ke Medan.
Jadi, ini dia penjelasannya (mgkn bermanfaat jg bagi teman2 bersuku Batak dan “awam” dengan marga2an ini). Marga2 di Batak emang kompleks. Satu orang merepresentasikan marga secara general dan rumpunnya.
Si bg Hokkop menjelaskan dengan mencontohkan dirinya yg secara ringkas ditunjukkan dengan gambar berikut:

Filosofisnya adalah ketika dibawa ke konsep dasar orang Batak, Dalihan Na Tolu* (hula-hula, dongan tubu, boru) maka akan terjadi seperti ini seperti ini:
Ketika bgkopkuow menikah dengan boru Manik (Skenario 1), maka:
|
bg Hokkop Situngkir
|
br Manik
|
|
Hula2 = marga Sibarani
|
Hula2nya jadi marga Situngkir
|
|
Dongan Tubu = Situngkir + serumpunnya
|
Dongan Tubu = Manik + serumpunnya
|
|
Boru = boru Situngkir
|
Boru = boru Manik
|
Jadi, cara pertama adalah dengan melihat status si cowo dulu karena dia yg jadi pembawa marga (patrilineal) dan dia bawa marga bapaknya (karena bapaknya menikah dengan boru Sibarani, hula2nya ya Sibarani). Hula2 nya boru Manik itu adalah marga Situngkir (karena hula2 bapaknya (marga Manik) adalah Situngkir yg notabene keluarga isterinya).
Dari tabel di atas, terlihatlah ketidakseimbangan. Situngkir muncul 3 kali, Sibarani sekali, dan Manik 2 kali, implikasinya adalah yg lebih berkembang nantinya adalah marga Situngkir. Dan, timbul kerancuan. Situngkir bisa jadi pihak Hula2, bisa juga jadi pihak Boru. Inilah yg dibilang mamaku ttg ntar jadi bingung mw manggil apa. Kalo kata bg kop, bisa2 pas dia lagi nerima kepala kerbau, malah disuruh marhobas (disuruh2). (hula2 kan kedudukannya lebih tinggi daripada boru). Dan kesannya (dari marga) sama aja dengan menikahi anak itonya sendiri (ito = kakak cewe, semarga).Tapi sebenarnya filosofisnya bukan karena masalah panggil memanggil apa, melainkan akibatnya ga seimbang lagi fungsi Dalihan Na Tolu disitu.
Dalihan Na Tolu jg berfungsi sebagai penyeimbang dan menjamin semua marga bisa berkembang dengan baik, sehingga semua marga terhindar dari yg namanya kepunahan.
Contohnya: lihat skenario 2. bg Kop menikah dengan anak tulangnya (yg nota bene adalah paribannya)
Tabelnya akan seperti ini:
|
bg Hokkop Situngkir
|
br Sibarani
|
|
Hula2 = marga Sibarani
|
Hula2nya jadi marga Tobing
|
|
Dongan Tubu = Situngkir + serumpunnya
|
Dongan Tubu = Sibarani + serumpunnya
|
|
Boru = boru Situngkir
|
Boru = boru Sibarani
|
Tidak ada ketimpangan marga di sana dan tidak ada kerancuan.
Ada 4 tingkatan/skenario (kata bg kop yah, dan mgkn menurut orang berbeda2, ini dari apa yg pernah dia baca aja) tentang pernikahan di suku Batak:
1. - Mutlak tidak diperbolehkan (yaitu pernikahan semarga) -> sebutlah skenario 0, ga bisa dibantah lg krn sama aja nikahin sodara sendiri.
2. – Sebaiknya jangan (contohnya skenario 1)
3. – Dianjurkan (contohnya skenario 2)
4. – Suka2mu (contohnya skenario 3)
Sekarang aku kasih skenario 3. Misalnya bg Kop (Situngkir) menikah denganku (boru Sirait) yg secara marga tidak serumpun dan dari masing2 orang tua juga tidak ada hubungan marga.
Tabelnya akan seperti ini:
|
bg Hokkop Situngkir
|
Iyet (br Sirait)
|
|
Hula2 = marga Sibarani
|
Hula2nya jadi marga Pasaribu
|
|
Dongan Tubu = Situngkir + serumpunnya
|
Dongan Tubu = Sirait + serumpunnya
|
|
Boru = boru Situngkir
|
Boru = boru Sirait
|
Sama seperti skenario 2, fungsi Hula2 dan Borunya tetap seimbang dan tidak ada kerancuan. Tapi kenapa skenario 2 tergolong yg dianjurkan? bukannya skenario 3?
Karena jadi sama aja dengan melindungi ibunya sendiri. (Suami bagi isteri adalah pelindung). Dan terjadi lagi pernikahan Situngkir dgn SIbarani (berulang seperti orangtuanya bg Kop). Dan lagi, si cowo seolah2 melindungi marga ibunya jika ayahnya udah ga ada (passed away).
akanya yg marpariban itu dianjurkan, karena sama aja dengan memperbesar rumpun Situngkir dan rumpun Sibarani (semakin byk yg pny marga Situngkir dan Sibarani nantinya -> tidak punah).
Skenario 3 dibilang suka2 ya karena ga ada alasan menolak (secara marga) dan ga ada jg alasan utk lebih dianjurkan (utk kepentingan perkembangan kedua marga).
Hal-hal seperti ini cukup menarik. Bg kop berusaha sekuat tenaga membuatku mengerti ttg ini (bhubung agak lemah gitu otakku, kan) sampe bertanya pada org yg dah lebih dulu berkeluarga yaitu bg Marbun. Pak Junaedi? Ya.. Dia juga bantu kok, dengan bilang, “kalo di Jawa sih ga ada yg gitu2.. yg penting ga sodara kandung aja…”
membantu sekali ya si bapak…
hehehehe
oiya, maap ya bg kop n fam dah dijadikan contoh, abis aku sampe disuru gambar2 diagram gitu ama bg kop biar jelas, jd aku cuma mindahin coratcoret ku aja.. hehe.. (luph you..)
Jadi, sepupuku ga bisa disalahkan sepenuhnya menurutku (aku memposisikan diri netral yah). Ini adalah tugas orangtua utk menurunkannya ke anak cucu sejak dini, bhkan kl perlu berulang2 menjelaskan filosofisnya, bukan cuma, “pokoknya ga boleh ajalah..” tanpa tau alasannya. Sehingga si anak pun ngerti (sadar) sejak dini dan bisa antisipasi. Jangan dah terjadi baru dilarang2. Juga sebaliknya, anak sebagai orang Batak harus punya curiousity yg lebih ttg adat Batak. Yang kutulis ini pun blm tentu benar, so postingan ini sangat terbuka bagi kalian yg mw kritik, saran, ato komentar dengan dewasa.. kita sama2 blajar kok..
Tapi, skenario 2 ini (di zaman modern dan era globalisasi ini) faktanya sudah banyak juga terjadi.. Ntah akibat perkembangan zaman ini sehingga filosofi di atas sedikit diabaikan, atau filosofi di atas tidak ditanamkan secara benar2 kepada anak cucu mereka. Kata bg kop, itulah sebabnya orang adat sering bertentangan dengan org modern. Ketika aku bertanya, bg kop ada diposisi yg mana. Dia jawab, “sama kayak abangku, harusnya adat itu mendukung modernisasi, dan sebaliknya modernisasi mendukung adat..”
what does it mean??
ya, gitu2lah…
dalam pengertian yg dangkal itu mgkn ya, modernisasi jgn malah mempunahkan suatu marga tertentu dengan kebebasannya, adat membuat masing2 marga tetap eksis. Sementara, modernisasi mendukung adat, jangan mengucilkan satu pihak krn kesalahan mereka (dlm hub dengan adat). Malah jadi dimusuhin, dan dihina misalnya.. Dah ga zaman lagi kek gitu. Bisa aja di suatu saat kalian jadi rekanan kerja. Mw dimusuhin? hancurlah dunia pekerjaan dan profesionalitas.. Modernisasi ditandai dengan hak asasi manusia bukan? Correct me if I’m wrong.
So, kalo cuma utk alasan: supaya ga dikucilkan ntar keluarga kalian ato diejek ato dihina, maka seseorang harus dipisahkan dari orang yg disayanginya, aku ga terima alasan itu. I don’t judge people by their status.. dan menurutku juga picik sekali (di zaman sekarang ini) kl seseorg ato satu pihak dikucilkan, diomongin, digosipin utk dihina2, hny krn status. Mereka sudah cukup terbeban dengan bertentangan dengan adat. Kalau emg ga mau hal ini terjadi, harusnya dari awal kesadaran spt itu ditanamkan pada anak (preventive action instead of curative action).
kalau dah sempat? yah,, pasrah dan berdoa aja lah supaya Tuhan nunjukin jalan,,
PS: pesan buat sepupuku.. cuma kau yang tahu apa yang membuatmu bahagia.. be ready for the consequences of every decision you make.. aku tetap pada prinsipku, every man has all rights to decide.. and time will answer.. hanya saja aku yakin ga sekarang..
*Dalihan Na Tolu
3 POSISI PENTING dalam kekerabatan orang Batak:
1.. HULA HULA atau TONDONG : kelompok orang orang yang posisinya “di atas”, yaitu keluarga marga pihak istri sehingga disebut SOMBA SOMBA MARHULA HULA yang berarti harus hormat kepada keluarga pihak istri agar memperoleh keselamatan dan kesejahteraan.
2.. DONGAN TUBU atau SANINA, yaitu kelompok orang-orang yang posisinya “sejajar”, yaitu: teman/saudara semarga sehingga disebut MANAT MARDONGAN TUBU, artinya menjaga persaudaraan agar terhindar dari perseteruan.
3.. BORU, yaitu kelompok orang orang yang posisinya “di bawah”, yaitu saudara perempuan kita dan pihak marga suaminya, serta keluarga perempuan pihak ayah. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari disebut ELEK MARBORU artinya agar selalu saling mengasihi supaya mendapat berkat.
Dalihan Na Tolu bukanlah kasta karena setiap orang Batak memiliki ketiga posisi tersebut: ada saatnya menjadi Hula hula/Tondong, ada saatnya menempati posisi Dongan Tubu/Sanina dan ada saatnya menjadi BORU.